Ketik Kata Yang Anda Cari

Memuat...

Minggu, 07 Desember 2014

JURNAL PENELITIAN : HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI BAYI UMUR 7 – 12 BULAN TENTANG PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DENGAN KEJADIAN DIARE DI DESA RAJADESA WILAYAH KERJA PUSKESMAS RAJADESA KABUPATEN CIAMIS



JURNAL PENELITIAN


HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI BAYI UMUR 7 – 12 BULAN TENTANG PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DENGAN KEJADIAN DIARE DI DESA RAJADESA
WILAYAH KERJA PUSKESMAS RAJADESA
KABUPATEN CIAMIS

Peneliti                                    : ..........................
Pembimbing Utama                : ..........................
Pembimbing Pendamping       : ..........................

Abstrak
Depkes RI (2003), bahwa tinggi rendahnya pengetahuan seseorang akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku seseorang dalam melakukan tindakan. Demikian juga dalam aspek kesehatan, masyarakat akan bersikap tanggap, kooperatif atau pasif ditentukan oleh sikap pemahaman atas dasar pengetahuannya. Pengetahuan juga merupakan faktor penyebab mendasar karena sangat mempengaruhi tingkat kemampuan individu dan keluarga dalam mengelola sumber daya yang ada untuk mendapatkan kecukupan bahan makanan serta kesehatan gizi keluarga (Depkes RI, 2012). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu yang memiliki bayi umur 7 – 12 bulan tentang pemberian Makanan Pendamping ASI dengan kejadian diare di Desa Rajadesa Wilayah Kerja Puskesmas Rajadesa Kabupaten Ciamis.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survey. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi usia 7 – 12 bulan sedangkan pengambilan sampel diambil secara total sampling yang berjumlah sebanyak 24 responden. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner sedangkan analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa univariat dan bivariat dengan menggunakan rumus chi square.
Hasil penelitian diketahui bahwa bahwa Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu yang memiliki bayi umur 7 – 12 bulan tentang pemberian Makanan Pendamping ASI dengan kejadian diare dengan nilai P value 0,043 yaitu lebih kecil dari alfa sebesar 0,05.
Hasil penelitian ini diharapkan dijadikan data awal untuk pengembangan penelitian di masa yang akan datang dan juga dijadikan acuan dalam pembuatan program untuk mengatasi masalah kejadian diare.




Latar Belakang
Kasus diare pada bayi usia 7 – 12 bulan terbanyak pada tahun 2013 terjadi dibeberapa daerah di Kabupaten Ciamis yaitu terdiri dari Wilayah Kerja Puskesmas Rajadesa yaitu sebanyak 539 kasus, Puskesmas Tambaksari sebanyak 465 kasus, Puskesmas Mandalika sebanyak 329  kasus, Puskesmas Sindangkasih sebanyak 442 kasus, Puskesmas Panjalu sebanyak 331 kasus, Puskesmas Padaherang sebanyak 109 kasus, dan Puskesmas Ciamis sebanyak 121 kasus, sehingga berdasarkan data tersebut terlihat bahwa kasus terbanyak di Kabupaten Ciamis terdapat di Wilayah Kerja Puskesmas Rajadesa yaitu sebanyak 539 kasus. Sedangkan angka kejadian diare tertinggi di Wilayah Kerja Puskesmas Rajadesa terdapat di Desa Rajadesa yaitu sebanyak 234 kasus (43,2 %).
Penyakit diare pada anak 1 tahun sebenarnya dapat disebabkan oleh MP ASI. Beberapa akibat yang kurang baik dari pengenalan makanan tambahan yang dini diantaraya adalah kejadian diare pada bayi (Komalasari, 2010).
Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal sifat kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Keberhasilan dalam memberikan makanan pada bayi tidak hanya tergantung pada ibu saja, tetapi dukungan dan peran serta keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam pemberian nutrisi pada bayi. Keluarga sebaiknya memahami mengenai MP-ASI, terutama mengenai kapan MP-ASI harus diberikan, jenis, bentuk dan jumlahnya. Peran keluarga berperan penting bagi pemeliharaan kesehatan keluarga. Keluarga yang terdiri dari ibu, ayah dan anak harus mempunyai sifat yang positif terhadap situasi dalam keluarga kemungkinan ibu dapat memberikan makanan pendamping secara benar. Dampak apabila pemberian MP-ASI terlalu dini maka bayi akan mendapat zat immun ASI lebih sedikit, sehingga resiko infeksi meningkat. Resiko diare juga meningkat karena makanan tambahan tidak sebersih ASI. Ibu mempunyai resiko lebih tinggi untuk hamil kembali jika jarang menyusui. Sedangkan bila pemberian MP-ASI terlalu lambat maka anak tidak akan mendapatkan makanan ekstra yang dibutuhkan untuk mengisi kesenjangan energi dan nutrien. Anak berhenti pertumbuhannya, atau tumbuh lambat. Pada anak resiko malnutrisi dan defisiensi mikronutrien meningkat (Effendi dalam Bella, 2012).


Rumusan Masalah
Bagaimanakah hubungan antara pengetahuan ibu yang memiliki bayi umur 7 – 12 bulan tentang pemberian Makanan Pendamping ASI dengan kejadian diare di Desa Rajadesa Wilayah Kerja Puskesmas Rajadesa Kabupaten Ciamis ?

Tujuan Penelitian
Mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu yang memiliki bayi umur 7 – 12 bulan tentang pemberian Makanan Pendamping ASI dengan kejadian diare di Desa Rajadesa Wilayah Kerja Puskesmas Rajadesa Kabupaten Ciamis

Kepustakaan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek-objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia. yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba (Notoatmodjo, 2011). Makanan pendamping ASI / MP ASI adalah makanan yang dipasarkan atau diproduksi pabrik untuk keperluan khusus yang dibuat tingkat rumah tangga yang dinyatakan sebagai makanan di atas 6 bulan sampai dengan umur 2 tahun untuk memenuhi kebutuhan gizi di samping ASI (Depkes RI, 2012). Penyakit diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi buang air besar dari biasanya disertai dengan adanya perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari penderita yang bersangkutan (Depkes RI, 2009).


Hasil Penelitian
Data dalam penelitian ini terlebih dahulu dianalisa. Data dalam penelitian ini dianalisa dengan menggunakan analisa univariat dan Bivariat. Data yang dianalisa menggunakan analisa univariat dalam penelitian ini adalah pengetahuan dan kejadian diare, sedangkan data yang dianalisa menggunakan analisa bivariat adalah hubungan pengetahuan tentang pemberian MP ASI dengan kejadian diare.
Aspek pengetahuan tentang pemberian MP ASI pada responden dalam penelitian ini diketahui bahwa sebanyak 11 responden           (45,8 %) mempunyai pengetahuan yang cukup, kurang sebanyak 9 responden (37,5 %), dan baik sebanyak 4 responden (16,7 %).
Aspek kejadian diare pada responden dalam penelitian diketahui bahwa sebanyak 10 responden           (41,7 %) adalah diare dan tidak diare sebanyak 14 responden            (58,3 %).
Data yang dianalisa menggunakan analisa bivariat dalam penelitian ini adalah hubungan antara pengetahuan ibu yang memiliki bayi umur 7 – 12 bulan tentang pemberian makanan pendamping ASI dengan kejadian diare.
Adapun P value 0,043 yaitu lebih kecil dari alfa sebesar 0,05 sehingga Ha diterima yang berarti ada hubungan antara pengetahuan ibu yang memiliki bayi umur 7 – 12 bulan tentang pemberian makanan pendamping ASI dengan kejadian diare.

Pembahasan
Penyebab Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebanyak 4 responden           (16,7 %) mempunyai pengetahuan yang baik, cukup sebanyak 11 responden (45,8 %), dan kurang sebanyak 9 responden (37,5 %). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas ibu adalah berpengetahuan cukup yaitu sebanyak 11 responden (45,8 %). Pengetahuan yang cukup dari responden dapat dipengaruhi oleh masih kurang rutinnya penerimaan informasi yang didapat oleh responden mengenai makanan pendamping ASI.
Aspek kejadian diare pada responden dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu diare dan tidak diare. Hasil yang diperoleh berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Desa Rajadesa Kecamatan Rajadesa Kabupaten Ciamis diketahui bahwa sebanyak 10 responden (41,7 %) adalah diare dan tidak diare sebanyak 14 responden (58,3 %).
Berdasarkan hasil analisa data bivariat P value 0,043 yaitu lebih kecil dari alfa sebesar 0,05 sehingga hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak karena nilai r value < a (0,05) yang berarti ada hubungan antara pengetahuan ibu yang memiliki bayi umur 7 – 12 bulan tentang pemberian Makanan Pendamping ASI dengan kejadian diare.

Kesimpulan dan Saran
Hasil penelitian diketahui bahwa bahwa Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu yang memiliki bayi umur 7 – 12 bulan tentang pemberian Makanan Pendamping ASI dengan kejadian diare dengan nilai P value 0,043 yaitu lebih kecil dari alfa sebesar 0,05.
Hasil penelitian ini diharapkan dijadikan data awal untuk pengembangan penelitian di masa yang akan datang dan juga dijadikan acuan dalam pembuatan program untuk mengatasi masalah kejadian diare.

Daftar Pustaka
Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. PT Rhineka Cipta. Jakarta.

Bella. 2012. Pentingnya MP ASI Yang Benar dan Tepat Bagi Bayi. http://www.belablog.blogspot.com.

Depkes RI. 2009. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Buku Pegangan untuk Kader. Direktorat Jenderal P2M dan PLP. Jakarta.

__________. 2010. Pedoman Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita. Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat.  Jakarta.

__________. 2010. Pentingnya Kemitraan Dalam Penanggulangan Diare. Direktorat Jenderal P2M dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman.  Jakarta.

__________. 2012. Penuntasan Masalah Gizi Utama. Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat. Jakarta.

__________. 2012. Asuhan Pemberian Makanan Tambahan Umur 0 – 5 Tahun. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. Jakarta

Dinkes Jabar. 2011. Profil Kesehatan Propinsi Jawa Barat Tahun 2011. Dinkas Kesehatan Propinsi Jawa Barat. Bandung.

Komalasari. 2010. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Insist. Yohyakarta.

Notoatmodjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan Edisi Revisi. Rineka Cipta Jakarta.

__________. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan Edisi Revisi. Rineka Cipta Jakarta.

__________. 2011. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. PT. Asdi Mahasatya. Jakarta.

Rahayu. 2010. Buku Pedoman Terapi Diet dan Nutrisi. Hipokrates. Jakarta.

Rasman. 2009. Peningkatan Gizi Bayi, Anak, Ibu Hamil dan Menyusui Dengan Bahan Makanan Lokal. Sagung Seto. Jakarta.

Sadulloh, dkk. 2009. Pedagogik. Cipta Utama. Bandung.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Administrasi. Alfabeta. Bandung.

Supariasa. 2011. Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Saraswati. 2011. Pemantauan Pertumbuhan Balita. Kaninus. Yogyakarta.



Umar. 2009. Metodologi Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Wiryo. 2012. Peningkatan Gizi Bayi, Anak, Ibu Hamil dan Menyusui Dengan Bahan Makanan Lokal. Sagung Seto. Jakarta.


JURNAL PENELITIAN : HUBUNGAN ANTARA USIA IBU DENGAN KEJADIAN KISTA OVARIUM DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM KOTA BANJAR TAHUN 2013



JURNAL PENELITIAN


HUBUNGAN ANTARA USIA IBU DENGAN KEJADIAN KISTA OVARIUM
DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM
KOTA BANJAR TAHUN 2013

Peneliti                                    : ............................
Pembimbing Utama                : ............................
Pembimbing Pendamping       : ............................

Abstrak
Kista adalah pertumbuhan abnormal berupa kantung (pocket, pouch) yang tubuh abnormal di bagian tubuh tertentu yang berisi udara, cairan, nanah, atau bahan yang lain yang tumbuh di mana saja, kista di kulit dapat terjadi akibat infeksi pengumpulan kelenjar sebaceous, atau sebab-sebab lain kista juga dapat tubuh di paru-paru, hati, bahkan jaringan otak (Daman, 2010). Masalah kesehatan yang terjadi pada kesehatan wanita diantaranya disebabkan oleh fakor internal maupun eksternal wanita. Faktor internal yang dimiliki ibu dan sering berpengaruh terhadap status kesehatan seorang wanita diantaranya adalah faktor paritas dan umur wanita (Pramudia, 2008). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara usia ibu dengan penderita kista ovarium di Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Umum Kota Banjar tahun 2013.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survey analitik. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kasus kista ovarium sedangkan pengambilan sampel diambil secara total sampling yaitu sebanyak 121 kasus. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar checklist sedangkan analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa univariat dan bivariat.
Hasil penelitian diketahui bahwa : usia ibu yang mengalami kista ovarium di sebanyak 74 responden (61,2 %) berusia lebih dari 35 tahun, penderita kista ovarium sebanyak 63 responden  (52,1 %) adalah kista ovarium non neoplastik, nilai P value 0,034 yang menunjukkan lebih kecil dari nilai ά (0,05) yang berarti bahwa Ho ditolak sehingga didapat kesimpulan adanya hubungan antara usia ibu dengan penderita kista ovarium di Badan Layanan Umum Daerah Kota Banjar tahun 2013.
Hasil penelitian ini diharapkan dijadikan data awal untuk pengembangan penelitian di masa yang akan datang dan juga dijadikan acuan dalam pembuatan program untuk mengatasi masalah kista ovarium.




Latar Belakang
Faktor usia memiki peran yang sangat signifikan dalam menentukan seberapa serius kista yang diderita seorang wanita. Perempuan dengan usia di bawah 40 tahun memiliki risiko terkena kista jinak yang dapat hilang dengan sendirinya setelah beberapa bulan. Sedangkan perempuan yang telah mengalami menopause, dengan usia dia atas 40 tahun, memiliki risiko terkena kista yang lebih berbahaya. Hal tersebut karena pada usia tersebut, keberadaan penyakit ini cukup berbahaya karena penyakit kista ini selanjutnya akan dapat berkembang menjadi kanker ovarium (Faisal, 2008).
Berdasarkan data dari catatan Rekam Medik Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Umum Kota Banjar terlihat bahwa jumlah kasus kista ovarium pada tahun 2012 adalah sebanyak 88 kasus. Sedangkan jumlah kasus kista ovarium pada tahun 2013 sebanyak 130 kasus. Berdasaran data tersebut terlihat bahwa angka kejadian kista ovarium bertambah dari pada tahun 2006 sampai tahun 2013 (Catatan Rekam Medik BLUD RSU Kota Banjar,  2013). 
Kista ovarium sering terjadi pada wanita di masa reproduksinya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa kista ovarium dapat terbentuk kapan saja, antara masa pubertas sampai menopause, bahkan selama kehamilan. Akan tetapi, kista biasanya dapat mengecil atau hilang dengan sendirinya setelah wanita memasuki masa menopause karena menurunnya aktivitas ovarium (Widjanarko, 2009).

Rumusan Masalah
Adakah hubungan antara usia ibu dengan penderita kista ovarium di Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Umum Kota Banjar tahun 2013?

Tujuan Penelitian
Mengetahui hubungan antara usia ibu dengan penderita kista ovarium di Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Umum Kota Banjar tahun 2013.

Kepustakaan
Usia adalah lama waktu hidup atau ada sejak dilahirkan atau diadakan. Usia juga berpengaruh terhadap psikis seseorang dimana usia muda sering menimbulkan ketegangan, kebingungan, rasa cemas dan rasa takut sehingga dapat berpengaruh terhadap tingkah lakunya. Biasanya semakin dewasa maka cenderung semakin menyadari dan mengetahui tentang permasalahan yang sebenarnya. Semakin bertambah usia maka semakin banyak pengalaman yang diperoleh, sehingga seseorang dapat meningkatkan kematangan mental dan intelektual sehingga dapat membuat keputusan yang lebih bijaksana dalam bertindak (Notoadmodjo, 2010). Kista ovarium adalah kista yang berasal dari indung telur (ovum) kantongnya berisi cairan seperti balon berisi air, udara, nanah, dapat tumbuh dimana saja dan jenisnya bermacam-macam, kista berada di dalam atas permukaan ovarium (indung telur) (Sukasdiman, 2010)


Hasil Penelitian
Data dalam penelitian ini terlebih dahulu dianalisa. Data dalam penelitian ini dianalisa dengan menggunakan analisa univariat. Data yang dianalisa menggunakan analisa univariat dalam penelitian ini adalah gambaran pengetahuan ibu primigravida tentang perubahan fisiologis selama kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 2 Kota Banjar.
Sebanyak 2 responden (3,51 %) mempunyai pengetahuan yang baik tentang perubahan fisiologis selama trimester I kehamilan, kategori cukup sebanyak 16 responden (28,07 %), dan kategori kurang sebanyak 39 responden (68,52 %).
Sebanyak 6 responden (10,53 %) mempunyai pengetahuan yang baik tentang perubahan fisiologis selama trimester II kehamilan, kategori cukup sebanyak 24 responden (42,11 %), dan kategori kurang sebanyak 27 responden (47,37 %).
Sebanyak 4 responden (7,02 %) mempunyai pengetahuan yang baik tentang perubahan fisiologis selama trimester III kehamilan, kategori cukup sebanyak 22 responden (38,60 %), dan kategori kurang sebanyak 31 responden (54,39 %).
Distribusi frekuensi pengetahuan ibu primigravida tentang perubahan fisiologis selama kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 2 Kota Banjar yang dilakukan terhadap 57 responden termasuk kategori baik sebanyak 4 responden              (7 %), cukup sebanyak 21 responden (36 %), dan sebanyak 32 responden (57 %) termasuk kategori kurang.

Pembahasan
Data dalam penelitian ini terlebih dahulu dianalisa. Data dalam penelitian ini dianalisa dengan menggunakan analisa univariat dan bivariat.
Analisa data dilakukan terhadap variabel usia dan kista ovarium. Aspek usia dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga, yaitu kurang dari 20 tahun, 20 – 35 tahun, dan lebih dari 35 tahun. Sedangkan Aspek kista ovarium dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu neoplastik dan non neoplastik. Sedangkan data yang dianalisa menggunakan analisa bivariat adalah hubungan antara usia ibu dengan penderita kista ovarium.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut terlihat bahwa kasus kista ovarium yang terjadi di Badan Layanan Umum Daerah Kota Banjar pada tahun 2013 lebih banyak yang berusia lebih dari 35 tahun yaitu 74 responden (61,2 %). Pada usia lebih dari 35 tahun, seorang wanita beresiko dan cenderung memiliki gangguan kesehatan.
Hasil penelitian diketahui bahwa sebanyak 58 responden              (47,9 %) adalah neoplastik dan non neoplastik sebanyak 63 responden (52,1 %). Kejadian kista ovarium neoplastik yang dialami oleh responden dapat disebabkan oleh karena kurangnya seseorang mengenal asal usul kista.
Hasil uji statistik diperoleh nilai r = 0.034, hal ini menunjukan bahwa ada hubungan antara usia ibu dengan penderita kista ovarium di Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Umum Kota Banjar.  Menurut Potter dan Perry dalam Pakjal (2013) mengatakan bahwa usia sangat mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku, yaitu seseorang akan sangat mempengaruhi keyakinan dan tindakan seseorang terhadap status kesehatan dan pelayanan kesehatan.

Kesimpulan dan Saran
Hasil penelitian diketahui bahwa : usia ibu yang mengalami kista ovarium di sebanyak 74 responden (61,2 %) berusia lebih dari 35 tahun, penderita kista ovarium sebanyak 63 responden  (52,1 %) adalah kista ovarium non neoplastik, nilai P value 0,034 yang menunjukkan lebih kecil dari nilai ά (0,05) yang berarti bahwa Ho ditolak sehingga didapat kesimpulan adanya hubungan antara usia ibu dengan penderita kista ovarium di Badan Layanan Umum Daerah Kota Banjar tahun 2013. Hasil penelitian ini diharapkan dijadikan data awal untuk pengembangan penelitian di masa yang akan datang dan juga dijadikan acuan dalam pembuatan program untuk mengatasi masalah kista ovarium.

Daftar Pustaka
Anneahera. 2014. Mengenai Seluk Beluk Kista Ovarium. Insist. Yogyakarta.

Arikunto. 2007. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. PT Rhineka Cipta. Jakarta.

Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. PT Rhineka Cipta. Jakarta.

Daman, 2010. Dunia Kewanitaan. Alfabeta. Bandung.

Depkes RI. 2007. Kesehatan Reproduksi Wanita.  Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Direktorat Kesehatan Keluarga,  Jakarta.

Indah 2013. Proses Adaptasi Psikologis Ibu Pada Masa Nifas. Insist. Yogyakarta..

Notoatmodjo. 2010. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Rineka Cipta. Jakarta.

Notoatmodjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan Edisi Revisi. Rineka Cipta Jakarta.

Nursalam. 2009. Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional. Edisi ke-2. Jakarta: Salemba Medika. Nursalam. 2002.

Pakjal. 2013. Teori Usia. Insist. Yogyakarta.

Pramudia. 2008. Masalah Kesehatan Kita. Insist. Yogyakarta.

Saifuddin AB. 2009. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal. Jakarta : YBPSP.

Shinta. 2012. Faktor-faktor Penyebab Kista. Insist. Yogyakarta.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Administrasi. Alfabeta. Bandung.

Sukasdiman. 2010. Penyakit Yang Sering Dijumpai Pada Wanita. Insist. Yogyakarta.

Sulistia, 2012. Mengapa Kita Harus Mengidap Penyakit Yang Tidak Diinginkan. Agung Seto. Semarang.

Wiknjosastro. 2009. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.




JURNAL PENELITIAN : GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMPUNYAI BAYI 0 -1 TAHUN TENTANG IMUNISASI DASAR LENGKAP DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CIEURIH KABUPATEN CIAMIS



JURNAL PENELITIAN


GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMPUNYAI BAYI 0 -1 TAHUN TENTANG IMUNISASI DASAR LENGKAP DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CIEURIH KABUPATEN CIAMIS

Peneliti                                    : .....................................
Pembimbing Utama                : .....................................
Pembimbing Pendamping       : .....................................
Abstrak
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis diketahui bahwa jumlah bayi bulan Januari – Maret 2014 adalah sebanyak 4.153 bayi, dimana sebanyak 83,16 % bayi telah diimunisasi lengkap. Adapun data pencapaian imunisasi di Kabupaten Ciamis diketahui bahwa cakupan imunisasi lengkap terendah terdapat di Puskesmas Cieurih yaitu sebesar 69,46 %. Sedangkan puskesmas lain yang berada di sekitar Puskesmas Cieureih cakupan imunisasinya adalah sebagai berikut : Puskesmas Cimaragas dari 220 bayi hanya 5 bayi yang diimunisasi lengkap yaitu sektar 2,27%, Puskesmas Kawali dari 344 hanya 16 bayi yang diimunisasi lengkap yaitu 4,66%, Puskesmas Cidolog dari 232 bayi hanya 12 bayi yang diimunisasi lengkap yaitu 5,16%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar lengkap di Wilayah Kerja Puskesmas Cieurih Kabupaten Ciamis.
Penelitian ini menggunakan bentuk penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi usia 0 – 1 tahun sedangkan pengambilan sampel diambil secara random sampling yaitu sebanyak 64 responden. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner sedangkan analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa univariat.
Hasil penelitian diketahui bahwa pengetahuan tentang pengertian imunisasi dasar lengkap sebanyak 29 responden (45,31 %) kurang, pengetahuan kurang tentang jenis imunisasi dasar lengkap sebanyak 35 responden (54,69 %), pengetahuan kurang tentang efek samping imunisasi dasar lengkap sebanyak 36 responden (56,25 %), pengetahuan kurang tentang keuntungan dan kerugian imunisasi dasar lengkap sebanyak 38 responden (59,38 %), dan pengetahuan kurang tentang jadwal imunisasi dasar lengkap sebanyak 38 responden (59,38 %).
Hasil penelitian ini diharapkan dijadikan data awal untuk pengembangan penelitian di masa yang akan datang dan juga dijadikan acuan dalam pembuatan program untuk mengatasi masalah imunisasi campak.




Latar Belakang
Hasil penelitian yang dilakukan oleh florentina (2013) di Rumah Sakit Bhayangkara Mappaodang Makassar tanggal 16 s.d 20 Mei 2013 diketahui bahwa dari 30 responden yang dibagikan kuesioner maka diketahui pengetahuan ibu yang tahu tentang pemberian imunisasi yaitu 15 orang (50%) dan yang tidak tahu sebanyak 15 orang (50%). Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Leni (2010) diketahui bahwa Secara keseluruhan tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar pada bayi di Desa Badran adalah termasuk dalam kategori baik (75,62%) dan hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa salah satu faktor yang menunjang program imunisasi di desa Badran maupun Puskesmas Pare adalah adanya partisipasi dari ibu yang memiliki bayi yang menjadi sasaran imunisasi Puskesmas Pare dimana untuk itu dibutuhkan pengalaman dan pengetahuan yang cukup memadai tentang pentingnya imunisasi bagi bayi.
Pemberian imunisasi pada seorang bayi sangatlah penting termasuk ketepatan waktu dan berbagai macam jenisnya. Sayangnya banyak orang tua yang cukup teledor untuk memberikan anaknya imunisasi, seperti hanya memberikan beberapa Imunisasi yang penting saja. Padahal jika mereka tahu bahayanya, mungkin mereka akan berpikir dua kali untuk melakukan hal tersebut. Adapun dampak jika tidak melakukan imunisasi secara lengkap diantaranya adalah penyakit akan mudah menyerang dan mudah tertular orang sakit.

Rumusan Masalah
Bagaimana pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar lengkap di Wilayah Kerja Puskesmas Cieurih Kabupaten Ciamis ?

Tujuan Penelitian
Mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar lengkap di Wilayah Kerja Puskesmas Cieurih Kabupaten Ciamis

Kepustakaan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek-objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia. yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan juga dapat dijelaskan sebagai hasil dari mengetahui obyek-obyek di alam nyata menurut akal dengan jalan pengamatan. Setiap kali objek yang diamati menjadi milik kesadaran, maka ia diketahui, dan dalam arti wujudnya yang ada dalam jiwa kita dinamakan pengertian (Sadulloh dkk, 2007). Ibu adalah wanita yang telah melahirkan seseorang (Depdiknas, 2011). Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya (Godam, 2008).

Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang pengertian imunisasi dasar lengkap diketahui bahwa sebanyak 29 responden (45,31 %) termasuk kategori kurang, pengetahuan cukup sebanyak 19 responden (29,69 %), dan pengetahuan yang baik sebanyak 16 responden (25,00 %).
Aspek pengetahuan ibu tentang pengertian imunisasi dasar lengkap diketahui bahwa sebanyak 35 responden (54,69 %) mempunyai pengetahuan yang kurang, pengetahuan cukup sebanyak 20 responden (31,25 %), dan pengetahuan yang baik sebanyak 9 responden (14,06 %).
Aspek pengetahuan ibu tentang efek samping imunisasi dasar lengkap diketahui bahwa sebanyak 36 responden (56,25 %) mempunyai pengetahuan yang kurang, pengetahuan cukup sebanyak 18 responden (28,13 %), dan pengetahuan yang baik sebanyak 10 responden (15,63 %).
Aspek pengetahuan ibu tentang keuntungan dan kerugian imunisasi dasar lengkap diketahui bahwa sebanyak 38 responden (59,38 %) mempunyai pengetahuan yang kurang, pengetahuan cukup sebanyak 14 responden (21,88 %), dan pengetahuan yang baik sebanyak 12 responden (18,75 %).
Aspek pengetahuan ibu tentang jadwal imunisasi dasar lengkap diketahui bahwa sebanyak 38 responden (59,38 %) mempunyai pengetahuan yang kurang, pengetahuan cukup sebanyak 14 responden (21,88 %), dan pengetahuan yang baik sebanyak 12 responden (18,75 %).

Pembahasan
Hasil analisa diketahui bahwa sebanyak 38 responden (59,38 %) mempunyai pengetahuan yang kurang, pengetahuan cukup sebanyak 14 responden (21,88 %), dan pengetahuan yang baik sebanyak 12 responden (18,75 %).
Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai pengetahuan yang kurang tentang jadwal imunisasi dasar lengkap. Kurangnya pengetahuan dapat disebabkan berbagai faktor, diantaranya adalah karena tingkat pendidikan yang rendah karena pendidikan berpengaruh terhadap kemampuan responden dalam menerima informasi terutama informasi tentang imunisasi dasar lengkap.
Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk siap berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi tingkat pendidikan, makin mudah menerima informasi sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Setia, 2010).


Kesimpulan dan Saran
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan kajian dan literatur dalam mengatasi masalah yang berhubungan dengan masalah kurangnya pengetahuan tentang imunisasi dasar lengkap agar pelaksanaan imunisasi menjadi lebih baik.

Daftar Pustaka
Arikunto. 2011.  Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan. Praktek. Jakarta : PT Rhineka Cipta.

Badriah. 2006. Metodologi Penelitian Ilmu-Ilmu Kesehatan. Multazam. Bandung.

______. 2007. Metodologi Penelitian Ilmu-Ilmu Kesehatan. Multazam. Bandung.

Depkes RI. 2010. Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi. Dirjen PP & PL. Jakarta.

_________. 2012. Pedoman Teknis Imunisasi Tingkat Puskesmas. Dirjen PP & PL. Jakarta.

_________. 2005. Modul Latihan Penyuntikan Yang Aman (Injection Safety) Dan Imunisasi Hepatitis B. Dirjen PPM & PL. Jakarta.



_________. 2005. Pedoman Pemantauan dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Dirjen PPM & PL. Jakarta.



_________. 2010. Pedoman Kesehatan Bayi dan Balita. Dirjen PPM & PL. Jakarta.

_________. 2012. Angka Kematian Bayi dan Ibu di Jabar Meningkat. http://www.republika.co.id.

Erla. 2010. Hepatitis. http://www.infeksi@info.com. Diakses pada tanggal 30 April 2010.

Godam. 2008. Imunisasi. http://www.godam.blogspot.com.

IDAI.2012. Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI 2011. http://www.tanyadokteranda.com.

Infobeta. 2012. Imunisasi Polio. http://www.infobeta.com. 
_______. 2012. Imunisasi DPT. http://www.infobeta.com. 

_______. 2012. Imunisasi Campak. http://www.infobeta.com. 



Marimbi. 2010. Tumbuh Kembang, Status Gizi dan Imunisasi Dasar Pada Balita. Medical Book. Jogjakarta.

Nakita. 2006. Imunisasi BCG. http://www.nakita.com

Netty. 2011. PKK Jawa Barat Capai 100 Persen Imunisasi. http://www.pkk-jabar.org.


Notoatmodjo. 2010. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. PT. Asdi Mahasatya. Jakarta.

___________. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan Edisi Revisi. Rineka Cipta Jakarta.

Ranuh. 2011. Pedoman Imunisasi di Indonesia.  Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta.
Ranuh. 2005. Pedoman Imunisasi di Indonesia.  Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta.

Sadulloh, dkk. 2007. Pedagogik. Cipta Utama. Bandung.

Soetjiningsih. 2005. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

___________. 2005. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Umar. 2004. Metodologi Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Unicef. 2011. Program Imunisasi di Indonesia: Menjangkau Setiap Anak. http://www.supportunicefindonesia.org.
Vinadanvani. 2009. Imunisasi Hepatitis B. http://www.wordpress.com. Diakses pada tanggal 30 April 2010.
Yana. 2007. Skripsi : Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Sikap Ibu Melahirkan Tentang Imunisasi Uniject Hepatitis B Dengan Imunisasi Uniject Hepatitis B Pada Bayi Usia 0 – 7 hari di Desa Bangunjaya Kecamatan Langkap Lancar. STIKes Bina Putera. Banjar.