Ketik Kata Yang Anda Cari

Memuat...

Kamis, 11 April 2013

Penelitian



 
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun berisiko terserang penyakit tuberkulosis paru-paru. Oleh karena itu, sedari awal orang tua hendaknya melakukan upaya pencegahan untuk menghindarkan buah hati tertular penyakit yang dapat mematikan tersebut (Dyah, 2012).
World Health Organization (WHO) juga melaporkan lebih dari 250 ribu anak terserang TB dengan angka kematian 100 ribu anak setiap tahunnya. Biasanya, anak penderita TB yang berisiko mengalami kematian adalah anak yang mengalami TB berat, seperti TB milier, TB selaput otak (meningitis), TB usus, dan TB hati. Risiko kematian tinggi lainnya juga dapat dialami oleh bayi berusia kurang dari 6 bulan, anak dengan gizi buruk, serta anak yang terkena HIV atau penyakit ganas lainnya (Dyah, 2012).
Sementara itu, berdasarkan data Riskesdas 2007 (Balitbangkes, 2008), pada 2010, Indonesia menduduki urutan keempat jumlah penderita baru TB terbanyak di dunia dengan 450 ribu kasus. Jumlah penderita TB paru-paru anak di setiap provinsi berbeda-beda. Ada yang jumlahnya mencapai 20 persen, tetapi ada pula yang hanya 2 sampai 3 persen dari total kasus (Dyah, 2012).
Penderita TB Paru di ,,,, terbanyak di Indonesia. Pada tahun 2009 penderita TB Paru mencapai 61.429 jiwa dan yang meninggal sebanyak 150 orang, dimana dari keseluruhan penderita tersebut sebagian besar berasal dari keluarga tidak mampu atau miskin.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota .... terlihat bahwa suspek kasus TB Paru tahun 2009 adalah sebanyak 1.046 kasus, tahun 2010 suspek TB Paru sebanyak 1.118 kasus, dan tahun 2011 adalah sebanyak 984 kasus. Sedangkan angka kejadian suspek TB paru di Puskesmas ... 2 pada tahun 2009 adalah sebanyak 114 kasus, tahun 2010 suspek TB paru sebanyak 164 kasus, yang terdiri dari 14 kasus baru, 25 kasus dengan BTA negatif dan Ro Positif. Angka suspek TB Paru pada tahun 2011 adalah sebanyak 166 kasus, yaitu sebanyak 20 kasus adalah kasus baru, 11 kasus dengan BTA negatif dan Ro positif.
TB Paru merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penanggulangan Tuberkulosis (TB) Paru di Indonesia menggunakan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) yang direkomendasikan WHO sejak tahun 1995 (Slamet H, 2004). Penemuan penderita TB Paru dalam strategi DOTS dilakukan secara pasif (passive case finding). Penjaringan tersangka TB Paru dilaksanakan hanya pada penderita yang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan terutama Puskesmas sehingga penderita yang tidak datang masih menjadi sumber penularan yang potensial. Strategi passive case finding kurang maksimal untuk diterapkan terutama dalam percepatan penanganan penyakit TB yang telah menjadi bahaya global (Depkes, 2002). Program pemberantasan TB Paru menjadi sangat penting untuk dilakukan karena sejak tahun 1999 kasus TB Paru di Indonesia cenderung meningkat sehingga pelaksanaan DOTS secara passive case finding perlu ditinjau ulang. Penemuan penderita TB Paru secara aktif di masyarakat sangat penting untuk mencegah penularan lebih lanjut tetapi kendala di lapangan adalah jumlah tenaga kesehatan yang ada sangat terbatas. Metode active case finding yang dilakukan oleh kader masyarakat untuk meningkatkan angka cakupan (coverage) penemuan, pemeriksaan dan pengobatan TB Paru sejauh ini masih belum diterapkan.
Menurut Setyanto dkk (2008) salah satu komponen DOTS adalah pengobatan panduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung, yaitu adanya seseorang yang bertanggung jawab mengawasi pasien menelan obat yang sering disebut dengan PMO. Setiap pasien baru yang ditemukan harus selalu didampingi oleh seorang PMO. Syarat untuk menjadi PMO adalah sebagai berikut : dikenal, dipercaya, dan disetujui baik oleh petugas kesehatan maupun pasien, serta harus disegani dan dihormati oleh pasien, tempat tinggalnya dekat dengan pasien, bersedia membantu pasien dengan sukarela, bersedia dilatih atau mendapatkan penyuluhan.
Orang yang dapat menjadi PMO adalah petugas kesehatan, keluarga pasien, kader, pasien yang sudah sembuh, tokoh masyarakat, serta guru sekolah atau petugas unit kesehatan sekolah yang sudah dilatih strategi PMO. Tugas PMO adalah mengawasi pasien agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan, memberikan dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur, mengingatkan pasien untuk periksa sputum ulang (pasien dewasa), serta memberikan penyuluhan kepada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala-gejala tersangka TB untuk segera memeriksakan ke unit pelayanan kesehatan (Setyanto dkk, 2008).
Hal yang paling penting pada penatalaksanaan TB adalah keteraturan menelan obat. Pasien TB biasanya telah menunjuk perbaikan beberapa minggu setelah pengobatan, sehingga merasa telah sembuh dan tidak melanjutkan pengobatan. Hal ini terjadi karena nilai sosial dan budaya serta pengertian yang kurang mengenai TB dari pasien serta keluarganya tidak menunjang keteraturan pasien untuk menelan obat (Setyanto dkk, 2008).
Keteraturan makan obat penderita TB paru merupakan faktor yang amat penting dalam keberhasilan pengobatan, apabila dapat diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku kepatuhan berobat diharapkan dapat digunakan untuk mengintervensi penderita yang tidak teratur dalam berobat dan minum obat agar menjadi lebih teratur dalam berobat, faktor yang berhubungan dengan kepatuhan berobat terbagai menjadi 2 macam, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi : umur, pendidikan, pengetahuan, dan sikap. Sedangkan faktor eksternal meliputi : Peran PMO, Peran Petugas Kesehatan,  dan kemudahan ke sarana kesehatan (Sagundayani, 2006).
Adapun jumlah PMO di Wilayah Kerja Puskesmas .... Kota ....pada bulan Januari – Juni 2011 adalah sebanyak 27 orang sedangkan pada bulan Juli – Desember 2011 adalah sebanyak 10 orang PMO (Puskesmas .... Kota ...., 2011).
Berdasarkan data tersebut, mendorong peneliti untuk mengetahui hubungan peran Pengawas Menelan Obat (PMO) terhadap kepatuhan minum obat pada TB Paru sesuai dosis di Puskesmas ....  Kota .....

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan peran Pengawas Minum Obat (PMO) terhadap kepatuhan minum obat pada TB Paru sesuai dosis di Puskesmas ... Kota ... ?

Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Mengetahui hubungan peran Pengawas Minum Obat (PMO) terhadap kepatuhan minum obat pada TB Paru sesuai dosis di Puskesmas ...  Kota ....
Tujuan khusus
Untuk mengetahui peran Pengawas Minum Obat (PMO) penderita TB Paru di Puskesmas ...  Kota ....
Untuk mengetahui kepatuhan minum obat pada TB Paru sesuai dosis di Puskesmas .... Kota ....
Untuk menganalisis hubungan peran Pengawas Minum Obat (PMO) terhadap kepatuhan minum obat pada TB Paru sesuai dosis di Puskesmas .... Kota ....

Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini secara umum diharapkan memberi bahan masukan untuk dapat memecahkan masalah kesehatan. Adapun manfaat penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Bagi Puskesmas ... Kota ....
Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan penyuluhan kepada pasien tentang penyakit TB Paru.
Bagi Institusi STIKes ....
Menambah referensi di perpustakaan sehingga dapat menjadi bahan masukan bagi mahasiswa yang membutuhkannya.
Bagi Peneliti
Dapat mengaplikasikan teori yang didapat selama mengikuti perkuliahan dalam kenyataannya di masyarakat.
Bagi Profesi ...
Dapat dijadikan acuan dalam pembuatan program penanganan penyakit TB Paru.

Keaslian Penelitian
Penelitian mengenai TB pernah dilakukan oleh Oktama (2010) dengan judul “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian TBC Paru Di Desa Pahonjean Wilayah Kerja Puskesmas ... Kabupaten ....”. Materi yang digunakan berisi mengenai lingkungan, perilaku, dan sistem pelayanan kesehatan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, teknik sampling yang digunakan proporsional random sampling, variabel penelitian adalah variabel independent dan dependent, cara pengumpulan data primer dan sekunder, instrumen yang digunakan adalah lembar checklist / angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada  faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian TBC Paru.
Perbedaan penelitian yang dilakukan peneliti terletak pada beberapa hal, diantaranya jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian, variabel yang diteliti, dan tempat penelitian.
Sedangkan persamaan dengan penelitian sebelumnya terletak pada beberapa bagian, diantaranya pada masalah penyakit yang diteliti yaitu meneliti mengenai penyakit TBC paru.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
Tinjauan Pustaka
Pengawas Minum Obat (PMO)
Menurut Depkes RI (2009) PMO adalah seseorang yang ditunjuk dan dipercaya untuk mengawasi dan memantau penderita tuberkulosis dalam meminum obatnya secara teratur dan tuntas. PMO bisa berasal dari keluarga, tetangga, kader, atau tokoh masyarakat atau petugas kesehatan.
Pengawas menelan obat merupakan ......
TB Paru
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC (mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lainnya (Depkes RI, 2007).
Sumber lain mengatakan bahwa tuberkulosis adalah .....
Kepatuhan Berobat TB Paru
Obat TBC diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis, dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6 – 8 bulan, supaya semua kuman (termasuk kuman persisten) dapat dibunuh.
Dosis tahap intensif dan ....
Prinsip Pengobatan TB Paru
Pengobatan tuberkulosis bertujuan untuk menyembuhkan penderita, mencegah kematian, mencegah kekambuhan dan ....

Kerangka Konsep dan Kerangka Kerja
Kerangka Konsep
Menurut Sagundayani (2006), dalam hal ini faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan berobat antara lain : faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi : umur, pendidikan, pengetahuan, dan sikap. Sedangkan faktor eksternal meliputi : peran PMO, peran petugas kesehatan, dan kemudahan ke sarana kesehatan.
Berdasarkan teori tersebut maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut ...

Kerangka Kerja
....

Hipotesis Penelitian
 Tidak ada  / ada hubungan peran pengawas minum obat terhadap kepatuhan minum obat pada TB Paru sesuai dosis di Puskesmas ... Kota ...

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis dan Rancangan Penelitian
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian survey analitik yaitu .....(Notoatmodjo, 2010).
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross ..... (Notoatmodjo, 2005).

Populasi
Populasi adalah ...... Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh .... Minum Obat (PMO) TB Paru di Puskesmas ... Kota ...pada saat penelitian berlangsung yaitu sebanyak .....

Lokasi Penelitian
Penelitian pengaruh peran pengawas minum obat terhadap .... obat pada TB Paru sesuai dosis akan dilaksanakan di Puskesmas .... Kota ...pada bulan ....2012.

Subyek Penelitian
Subyek dari penelitian mengenai ..... adalah Pengawas Minum Obat (PMO) di Puskesmas ....Kota ....

Ukuran Sampel dan Teknik Sampling
Ukuran Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang diwakilkan sebagai objek penelitian dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005 : 79). Sampel dalam penelitian ini .....responden.
Teknik Sampling
Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling karena .....

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Variabel Penelitian
Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2002). Variabel dalam penelitian ini adalah :
Variabel bebas (independent) adalah .... Variabel independent dalam penelitian ini adalah peran .....
Variabel .... merupakan variabel akibat atau variabel yang terpengaruh (Notoatmodjo, 2005). Adapun variabel ....dalam penelitian ini adalah kepatuhan minum obat .....
Definisi Operasional
////.....


Cara Pengumpulan Data
Data Primer
...... Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data primer pada penelitian yaitu dengan kuesioner. Kuesioner dalam penelitian ini berisi ......
Data Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini adalah data pendukung ......

Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner untuk responden. Kuesioner adalah .... (Arikunto, 2002). Adapun kisi-kisi instrumennya adalah sebagai berikut ...
Soal-soal dalam kuesioner tersebut terlebih dahulu dianalisis baik validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, maupun daya pembeda. Cara untuk menganalisis butir soal tersebut adalah sebagai berikut ...
Pertanyaan dalam penelitian juga dinyatakan reliabel karena nilai α lebih besar dari r tabel (0,744 > 0,444).

Jalannya Penelitian
Langkah yang dilakukan dalam melakukan penelitian ini adalah meliputi studi pendahuluan untuk meminta data sekunder. Setelah semua lengkap kemudian dibuatkan outline yang ditujukan kepada program studi ...STIKes .....

Strategi Analisis
Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan alat bantu program komputer, dengan langkah-langkah sebagai berikut (Arikunto, 2002) ....

Analisa Data
Analisa Univariat
Analisa univariat dilakukan terhadap ...(...., 2005). Adapun data yang dianalisis menggunakan analisa univariat adalah : ... dan kepatuhan ....paru sesuai dosis.
Untuk mengetahui distribusi frekuensi maka rumus yang digunakan adalah : ,,,,...
Keterangan :
P : Prosentase
X : Soal yang dijawab benar
N : Jumlah seluruh soal
Selanjutnya hasil prosentase tentang peran PMO dimasukkan ke dalam standar kriteria objek, yaitu :
.... %    : Baik
.... %    : .....
< ...%  : Kurang

Analisa Bivariat
Analisa bivariat dilakukan terhadap .... diduga berhubungan ..... Adapun data yang dianalisis menggunakan ... .... adalah : .....minum obat TB Paru sesuai dosis.
Selanjutnya dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji statistik dengan  bantuan komputer untuk menganalisa dengan rumus .....

Etika Penelitian
.....
Informed Consent (Lembar Persetujuan)
Anonimity (Kerahasiaan Nama Responden)
Anonimity merupakan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama ressponden  pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.
.......(Kerahasiaan Informasi)
.......merupakan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil penelitian.
............
..... jaminan dalam penggunaan subjek penelitian yang mempunyai hak untuk meminta bahwa .......
Fair .... (.... Adil)
...... merupakan jaminan yang diberikan kepada subjek agar diperlakukan secara adil baik sebelum, selama dan sesudah keikutsertaannya dalam penelitian tanpa adanya diskriminasi apabila ternyata mereka tidak bersedia atau dropped out sebagai responden.
Self ....  .....Manusiawi)
Self ..... merupakan jaminan yang diberikan kepada subjek agar diperlakukan secara manusiawi. Subjek mempunyai hak memutuskan untuk bersedia menjadi responden ataupun tidak, tanpa adanya sangsi apapun atau akan berakibat terhadap kesembuhannya jika mereka seorang pasien. ......

Jadwal Penelitian
Penelitian mengenai ..... akan dilakukan sebagai berikut :

BAB IV


 
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembahasan
Analisa Univariat
Peran Pengawas Minum Obat
Berdasarkan aspek peran pengawas minum obat di Wilayah Kerja Puskesmas .... diketahui bahwa sebanyak ..... responden (10,8 %) mempunyai .... berkategori .... , .......
Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa ......
Kurangnya peran pengawas minum obat mempunyai pengaruh terhadap kesembuhan pasien. Peran pengawas minum obat yang kurang harus diperbaiki agar peran pengawasan yang dilakukan dapat berjalan sesuai dengan tugasnya. Untuk memperbaiki peran pengawas minum obat (PMO) maka PMO harus mengikuti menambah pemahamannya tentang tugas dan peran PMO.

Kepatuhan Minum Obat TB Paru Sesuai Dosis
.........
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa sebagian besar responden .......
Untuk mengatasi adanya responden penelitian yang tidak teratur minum obat maka peran PMO harus lebih dimaksimalkan dan penderita TB Paru juga harus selalu diberikan pengarahan bahwa obat TB Paru harus diminum secara teratur dan tidak boleh ketinggalan atau tidak teratur sekali saja karena jika tidak meminum sekali saja maka penderita harus mengulangi kembali ke awal dalam minum obat TB Paru.

Analisa Bivariat
Hubungan Peran Pengawas Minum Obat (PMO) Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pada TB Paru Sesuai Dosis
Hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa ......
Hasil uji statistik diperoleh nilai r = .... atau lebih ... dari nilai alfa (0,05), hal ini menunjukan bahwa .... hubungan peran Pengawas Minum Obat (PMO) terhadap kepatuhan minum obat pada TB paru sesuai dosis di Wilayah Kerja Puskesmas .... Kota ......
Berdasarkan hasil penelitian ini terlihat bahwa peran pengawasan yang dilakukan oleh PMO berhubungan terhadap kepatuhan minum obat penderita TB Paru. Hal ini sesuai dengan pendapat Sagundayani (2006) yang mengatakan bahwa .....

BAB V


 
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai hubungan peran Pengawas Minum Obat (PMO) terhadap kepatuhan minum obat pada TB Paru sesuai dosis di Puskesmas .... Kota ....didapat kesimpulan sebagai berikut :
Diketahui bahwa sebanyak .... mempunyai peran PMO yang ..... kurang
..... bahwa sebanyak 22 responden (59,5%) tidak patuh dalam minum obat TB Paru sesuai dosis
Hasil uji statistik menunjukan bahwa .....

Saran
Berkaitan dengan hasil penelitian yang diperoleh mengenai hubungan peran Pengawas Minum Obat (PMO) terhadap kepatuhan minum obat pada TB Paru sesuai dosis, maka peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut :
Untuk Profesi ....
Dapat dijadikan acuan dalam meningkatkan keteraturan pada penderita TB Paru yang tidak teratur minum obat serta memperbaiki kurangnya peran pengawas PMO sehingga sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kejadian TB Paru dan meningkatkan peran serta PMO dalam mengatasi masalah TB Paru.
Untuk Dinas Kesehatan ....
......
Untuk Puskesmas ....
Diharapkan selalu memberikan konseling dan penyuluhan kepada pasien TB Paru yang tidak teratur minum obat serta kepada .....

DAFTAR PUSTAKA
.................... 2002. ........................... PT Rhineka Cipta. Jakarta.
Depkes RI. 2002. ....................... Ditjen PPM dan PLP. Jakarta.
Depkes RI. ........... Pedoman Teknis Perawatan Bayi Tingkat Puskesmas. .....